Paradoks

Umurnya yang 20-an itu takkan terlihat tanpa make-up. Tanpa kosmetika, usia yang terpancar dari wajahnya akan terlihat makin tua. Tapi mungkin ketuaan dini itu bukan semata-mata karena lipstik, bedak, dan perona pipi murahan yang biasa ia kenakan. Pekerjaannyalah yang membuatnya selalu keluar malam, menemani siapapun yang dipanggil “oom”, berapapun usianya, sepanjang di koceknya uang kertas berlapis-lapis siap untuk disawerkan padanya tatkala mendendangkan lagu dangdut. Lagu yang sangat satir menghina wajah mesum oom-oom senang atas perempuan yang lebih muda, namun tatkala ia dendangkan oom-oom tersebut malah berjoget senang, tentu pula dengan wajah mesumnya dengan lirikan beringas ke bagian-bagian tubuhnya yang memang dibalut kain yang bukan berfungsi untuk menutup tubuh, tapi justru memberi kesan sensual.

Maya memang wanita penghibur. Harinya dimulai setelah pukul sembilan malam, dan diakhiri pagi subuh. Senyum yang dipaksakan, lenggak tubuh yang dikesankan sensual, aroma alkohol, asap rokok adalah “risiko” pekerjaan baginya. Namun demikianlah hidup. Ia tak merasa bahwa ia perlu minder, karena sama seperti profesi terhormat seperti pengacara, konsultan teknik, dokter, dan sebagainya, ia juga memilki tarif per-jam. Bagi Maya, profesi itu dibedakan hanya berdasarkan alat yang digunakan untuk bermuslihat. Profesi yang lebih tinggi bermuslihat dengan pikiran, ucapan, tindakan, sementara dirinya bermusihat dengan tubuh. Ia tak merasa perlu minder, karena minimal ia merasa, bahwa ia hanya berbohong di malam hari. Siangnya, ia adalah seorang gadis penziarah ilmu yang belakangan ini sedang sangat intensif terlibat dalam konstruksi teoretis revolusioner komputasi kuantum!

Semenjak ia mendapat kiriman nyasar sebuah paket pos yang diperuntukkan bagi seorang mahasiswa yang dulunya tinggal di kamar kos yang sekarang didiaminya, ia memang terjangkit sains dan matematika. Pandangannya pada berbagai formula matematika dan diagram dalam buku yang judulnya pun tak bisa dimengertinya itu telah membikin aktif neuron-neuronnya yang pernah aktif pada masa dahulu kala, tatkala ia masih duduk di bangku sekolah menengah.

Bagi Maya, kehidupan persekolahan memang menyenangkan, karena “semua pelajaran sekolah adalah permainan” baginya. Permainan yang terpisah sangat jauh dari kehidupan sehari-harinya yang ribut dengan urusan tunggakan pinjaman dari lintah darat kampungnya di kawasan Sukabumi, omelan ibunya karena karena ia belum juga punya calon suami, padahal ia sudah hampir lulus sekolah, stok minyak tanah yang langka, dan terkadang riuh oleh gempa-gempa kecil yang menerpa desanya. Baginya, sains dan matematika yang dipelajarinya di sekolah adalah hiburan yang memberikan kegembiraan lain.

Maya terisak ketika lulusan sekolah. Bukan karena terpisah dari teman-teman sekelasnya, namun karena terpisah dari sebuah dunia yang penuh kegembiraan di dunia yang asing, namun sangat menghibur itu. Baginya, lulusan sekolah adalah saatnya berhenti “bermain”, dan menjadikan problematika hidup sehari-hari sebagai tema tunggal dalam hidup.

Untungnya, paman Sam membebaskannya dari omelan ibu dan bapaknya, yang sibuk mencarikan jodoh untuk putrinya. Ia diajak ke kota Bandung untuk bekerja. Sialnya, paman Sam adalah seorang penyedia perempuan penghibur di Bandung. Ia pun mengubah jam tidurnya dari melek siang, menjadi melek malam. Dan sungguh lebih sialnya lagi, ia harus ribut dengan pamannya atas profesi itu. Keributan yang diakhiri dengan kemarahan si paman, menggelut tubuhnya, melucuti pakaiannya, dan memperkenalkannya ke dunia yang sama sekali baru baginya: seks!

Sudah tiga tahun profesi ini dijalaninya. Tugasnya adalah menari dan menyanyi dangdut di sebuah klub malam dangdut di tengah kota, menemani mulai dari lelaki paruh baya hingga tua bangka, tak peduli tampan atau tidak. Yang penting ia bisa mendapat uang, untuk hidup sehari-hari. Dan seperti teman-temannya yang lain, membeli pulsa internet, tapi bukan untuk facebook atau twitter, melainkan untuk bertemu dengan berbagai romansa dan nostalgia lamanya di sekolahan melalui selancar mesin pencari dan ensiklopedia online.

Hingga sekitar tiga tahun lalu,ia membongkar paket pos yang berjudul asing baginya itu “an introduction to quantum mechanics“. Dengan ditemani mesin pencari di handphone, maka buku hariannya pun kini dipenuhi coretan-coretan yang membuatnya – tanpa sadar – menjadi seorang fisikawati otodidak terhebat. Mulai saat itulah mungkin kebiasaan hidupnya berubah dan menjadikan wajah tanpa kosmetikanya tampak makin kusut dan menua. Waktu siangnya yang biasanya dihabiskan dengan bercengkerama di mall dengan sesama penghibur klab berubah total diisi hobinya membaca dan mempelajari mata kuliah fisika modern, tentunya tanpa ia sadari.

Sekian lama, akhirnya ia bisa meng-khatam-kan buku itu. Tapi kesedihannya setelah kehilangan bahan bacaan yang mengasyikkan itu tak lama. Ia mulai aktif di mailiing list dan komunitas maya fisika modern. Entah mungkin memang ia dianugerahi kecerdasan yang tinggi, atau hasrat “bermain” yang besar, beberapa mahasiswa pun mulai menjadikannya sumber jawaban untuk banyak tugas-tugas mahasiswa di perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Ia seolah jadi guru virtual untuk mekanika kuantum. Bahkan beberapa makalah ilmiah dan disertasi menyebut nama samarannya di internet dalam ucapan terima kasih oleh bantuannya menyelesaikan beberapa persoalan dalam ilmu fisika. Tak ada yang pernah tahu, bahwa yang mereka jadikan “narasumber” virtual itu adalah seorang perempuan yang malam harinya berprofesi sebagai wanita penghibur klab malam dangdut!

Hingga suatu saat, musim yang buruk pun datang.

“Mami baru dapat kabar dari pak Kusno, mungkin malam minggu besok adalah waktu terakhir klab kita buka…”, ujar mucikari yang mempekerjakan dirinya seusai pertunjukan. Rupanya klab malam dangdut telah sedemikian menurun peminatnya, hingga telah beberapa bulan ini pengusaha klab malam mendapati neraca negatif.

Kota Bandung makin metropolis, dan pertunjukan malam bernuansa dangdut telah jadi bukan pilihan di tengah berbagai “kampanye”, bahwa diskotik dan klab dangdut tempat Maya bekerja, sebagai tempat hiburan malam yang jorok, miskin, kelas bawah, dan sebagainya. Klab malam dangdut harus kalah bersaing dengan klab malam modern yang bebas perempuan bayaran, meski ke-tuna-susila-an makin menemukan bentuknya yang luas, yang secara kolektif diterima masyarakat yang bermoral tinggi ini.

Semenjak awal tahun yang lalu, pengunjung memang menurun terus secara drastis, apalagi dengan berbagai kebijakan politik yang sangat kontra hiburan malam berbau seks. Maya dan beberapa rekannya beberapa kali harus bersedia melayani tamu keluar, diboyong ke hotel untuk memenuhi anggaran hidup mereka yang memang tak murah, habis digunakan untuk shopping, salon kecantikan, dan bagi Maya, membiayai bandwidth internet dan cicilan laptop yang baru dibelinya.

Seminggu setelah klab dan diskotik dangdut ditutup, Maya dan puluhan wanita penghibur itu pun terpaksa menjajakan diri di jalan, memenuhi panggilan di hotel sebagaimana diatur oleh Mami mucikari mereka. Awalnya memang tak mengapa. Kehidupan virtual Maya tetap memberikan inspirasi melalui komunitas online, blog web, dan sebagainya, manakala Maya “libur kerja”, entah saat tak ada order-an, ataupun sedang datang bulan.

Namun Ilmu Fisika mungkin membuat penampilan Maya cepat menua. Ia agak jarang bersolek dan ke salon perawatan demi penghematan untuk membayar bandwidth internet dan membeli buku-buku tertentu di pasar loak. Lebih jauh ia pun harus sadar diri, tak sanggup bersaing dengan banyak pendatang baru yang lebih seksi dan lebih berani menjajakan diri.

Suatu ketika, ia mem-posting pesan pamit di akun online-nya. Ia berpikir mungkin lebih baik pulang kampung saja karena ia tak sanggup lagi hidup di kota. Laptopnya tergadai dan buku-buku yang dibeli dari tukang loak kembali menghiasi toko buku loak, demi ongkos ke kampung yang memang tak sedikit.

Lama baru beberapa anggota komunitas online di mana ia aktif mulai menyadari, bahwa mereka telah kehilangan satu akun yang sering membantu mereka dalam mendiskusikan berbagai percobaan pikiran tentang komputasi kuantum.

Maya menghilang dari peredaran kajian komputasi kuantum. Ia kini menjadi isteri ketiga seorang rentenir desa, melayani suami ketika gilirannya tiba, dan menjaga anak-anak dari isteri tua sang suami di kala senggang. Jauh dari hiruk pikuk serunya diskusi komputasi kuantum…

Bandung, 21 September 2011

5 Responses to “Paradoks”

  1. sudah terlalu tinggi kumpulan-kumpulan pembenaran yang kubuat yang pada akhirnya menjadi penjara dari diri ini. sudah saatnya tembok ini kurubuhkan. ilmu memang tidak memilih apakah orang tersebut pintar atau bodoh. apapun okupasinya selama ia berkontribusi thdap pengembangan ilmu ia adalah seorang yang berjasa besar thd peradaban.

    sedikit curhat ama opini

  2. liar sekali bang imajinasinya :D

  3. aduh, knp petualangannya dgn ilmu quantum mechanics berakhir cepat…? puaskah maya menjadi istri ketiga rentenir desa?

  4. Anonymous Says:

    Iya bang, ceritanya harusnya masih berlanjut… Dari sekian banyak buku atau cerpen yg saya baca, ini salah satunya cerita yg paling menarik.

  5. ini bilangan real, bilangan imajiner, atawa bilangan kompleks (real+imajiner)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.