teka-teki tubuh bhara

Kami adalah buku. Penyair prapanca boleh sebut kami biara orang-orang Wajardha. Orang-orang Mataram boleh sebut tempat ini sebagai sebagai tempat yang tabu, saat mas Dhana yang memberontak PakuBuwono I ditangkap di sini dan dihukum mati. Dan kami biarkan saja Kanjeng Pangeran Monconagoro dari Yogya terkesiap melihat arca seorang ksatria terkurung di sini. Tetapi kami sendiri adalah buku besar tentang hidup sudra, ksatria, wiyasa, dan brahmana yang mencari hidup nirwana. Kau perlu berjalan kaki 1 kilometer lebih untuk membaca kami. Tak ada huruf-huruf di sini. Yang ada adalah kisah-kisah yang digambar dengan pena abadi ditatah ke permukaan batu gunung. Kisah-kisah Mahakarmavibhangga, Jataka, Jatakamala, Avadana, hingga Gandavyuha dan Lalitavistara.

Kami adalah gunung. Berputar-putar mengelilingi kami dalam tarian pengetahuan tentang laut meski kau di pegunungan. Bernyanyi-nyanyi tentang perbintangan meski kau di bumi. Begitu kau membaca kami, maka dirimu dan dunia luar putus! Kau terpenjara dalam pelajaran budhi dharma akan derita hidup, samsara yang akan membawamu ke swargaloka kebijaksanaan tertinggi yang diperbolehkan semesta mengisi serabut abu-abu di bawah rambutmu.

Jika kau berdiri di dekat kami dan menghadap ke selatan, kau membelakangi tidar Pakuning Tanah Jawa, dan matamu akan terhipnotis pada gugus menoreh yang membentuk seseorang yang sedang tidur terlentang membujur dari timur ke barat. Lekukan-lekukan yang membuka matamu akan tubuh seorang yang gunadharma mulai dari kepala, hidung, bibir dan dagu, serta bagian perut hingga kaki.

Semua tentang kami adalah misteri. orang-orang Kulrak menulis bahwa guru Kumaragacya dari Ghandadwipa dan Visvawarman, pangeran Kashmir, menggubah diri kami dalam Tantra Vajrayana. Yang jelas kami ada oleh budhidharma Maha Raja Dananjaya bergelar Sri Sanggramadananjaya, puteranya Samarotthungga, dan cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani!

Lebih dari seribu tahun lalu, Merapi meletus dan mengubur kami dengan lava, dan kini kami hadir kembali ketika seorang anak dari peradaban modern mendengar ada batu-batu berukir tertimbun tanah di sini. Cornelius yang bermata biru dan berkulit putih itu diperintah untuk pimpin pembersihan kami untuk pertama kali.

Kami tersusun atas cadas gunung yang keras hampir lima puluh laksa meter kubik. Mungkin kau lihat kami seperti bujur sangkar, lingkaran? Tidak! Mereka yang merancang pembangunan kami tak kenal bangun geometri seperti itu. Kami dibangun dengan tumpukan-tumpukan batu, dengan mantra-mantra suci gunadharma yang diikuti para lelaki bertelanjang dada dalam menumpuk satu batu di atas yang lain selama sepuluh tahun.

Kami bicara dalam sepi, berteriak dalam hening, menulis tanpa aksara, dan bercerita tanpa prasasti. Kau hanya bisa menduga. Saat kau bingung dengan diri kami, kau akan tersenyum bahagia. Matamu yang terpejam akan melihat dengan sangat terang. Telingamu yang tertutup dengung dingin gunung akan mendengar dengan sangat jelas. Dan mulutmu yang tertutup dalam raga yang terkurung akan menari dengan lincah dan bebas. Lagu kebijaksanaan menuju boddhisativa.

Kami adalah Borobudur!

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.