dik…

Dik…
seperti yang kau tahu, hanya bunda pertiwi yang bisa alihkan sayangku padamu…
orang-orang ini mau merongrong dan perkosa bunda pertiwi…
jadi maafkan kalau aku mesti pulang lebih malam dari pegawai VOC dan pamong praja itu…

Dik…
aku tak bisa wariskan apapun buatmu dan anak-anakmu kelak,
Selain jejak langkahku yang selalu dibimbing kejujuran dan rasa cinta dan setiaku padamu…
dirimu adalah jiwa bagiku dan benteng terakhir dari perlawananku akan getirnya dunia ini…
ingatlah bahwa kesetiaanku padamu adalah ungkapan rasa hormatku pada Sang Khalik dan pada seluruh ibu di seluruh muka bumi ini, termasuk ibu pertiwi.

Dik,
ketahuilah bahwa aku bahagia ketika kau marah
saat uang belanja tak cukup,
dan kecerdasanmu sebagai isteri yang bijak mengasah rasa cinta dan sayangku padamu setiap hari.
Aku ingin kau tahu bahwa jahitanmu di bajuku yang sobek itu
membuat pakaianku seperti berhias gelimangan kuasa dan harta
yang memberiku energi untuk terus berkarya dan tak henti menyenandungkan lagu cinta pada negeri.
Sadarilah bahwa setiap hidangan makan dan minum darimu
adalah hadiah bagi semesta,
amarah dan sumber kutuk bagiku jika aku bermalas-malasan.
Setiap hadirmu adalah penyejuk bagi siangku dan selimut bagi malamku.
Aku bahagia untuk tahu bahwa diriku adalah hal yang paling menjadi dambaanmu.

Dik,
jika kita punya anak nanti, aku tak mau mereka mengenangku karena aku membanting tulang kesana kemari,
agar bisa memanjakan mereka dengan mainanĀ  baru, karena meraka bukan peliharaan kita,
agar bisa membubuhi mereka dengan uang jajan untuk lampiaskan masa muda di kantin sekolah,
agar bisa membuat mereka girang dengan hadiah bak seekor anjing yang ekornya bergoyang senang melihat majikannya pulang,
agar bisa menyekolahkan mereka setinggi langit,
karena aku tak mau memberi mereka candu dan ganja modernitas
yang berbuntut pada kesombongan intelektual
yang hanya akan mengasingkanmu dari masyarakatmu, dari aku dan ibumu.

Dik,
aku juga tak mau anak-anak kita membenci kita,
karena terlalu banyak petuah dan nasihat,
karena mereka bukanlah murid kita dan kita bukan guru mereka.
Aku takkan menganggap kalian lebih cakep dan pintar di banding teman sebaya mereka,
karena aku sangat takut negeri ini di masa depan
dipenuhi oleh anak-anak jelek dan bodoh dan hanya anal-anak kita saja yang cakep dan pintar.
Kita tak perlu membangga-banggakan mereka
karena mereka bukan piala
dan mereka punya hak dan kewajiban yang sama dengan anak-anak lain
di dunia ini untuk berlaku jujur dan ikhlas dan hidup.
Mereka dan anak-anak lain yang bukan anak kita adalah masa depan negeri…

Dik,
ingatkan mereka kelak bahwa ayah mereka mewarisi cinta kepada negeri,
dan ketika mereka menghitung betapa nikmatnya hidup di negeri ini,
mereka tahu ayahnya adalah bagian dari sumber kenikmatan itu.
Biarlah anak-anak kita berterima kasih karena semua yang terhidang di meja,
apakah itu penuh makanan atau kosong tanpa makanan sama sekali,
adalah halal dan keluar dari keikhlasan perjuangan nafkah seorang ayah.
Janganlah anak-anak kita menjadi sombong di antara teman-temannya,
karena mereka tahu, semua anak lain adalah saudara.

flyover paspati bandung 2010

Advertisement

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.