fesbuk [at] facebook
di fesbuk,
aku melihat orang tampil up-close dengan senyum lebar dan cerah sekali,
mungkin ia sedang berkampanye politik,
berharap pendukung di masyarakat maya fesbuk.
di fesbuk,
aku melihat orang tampil dengan latar belakang berbagai tempat,
karena ia ingin orang tahu, ia sudah cukup makmur,
bisa jalan-jalan ke berbagai tempat, luar dan dalam negeri.
di fesbuk,
aku melihat profil dengan foto bayi dan anak-anak,
bukan profil si pemilik fesbuk yang merupakan ibu atau ayah anak-anak itu,
mungkin karena si ayah atau ibu tak percaya diri,
bisa jadi ia jelek, pendek, gemuk, dan kelihatan tablo’,
bisa jadi ia adalah orang yang kecewa pada diri sendiri,
ia lemparkan semua kelemahannya pada anak-anaknya;
karena orang selalu bilang “iiih… lucunya!!” pada foto anak kecil,
lantas lupa pada kedunguan dan cacat hidup orang tuanya…
di fesbuk,
aku juga melihat profil tanpa foto orang,
tapi foto mobil, laptop, telepon genggam,
karena pemiliknya tak punya sarana lain untuk berbangga-bangga,
tanpa harus disebut sombong dan pongah.
di fesbuk,
aku melihat wajah-wajah foto profil yang bukan foto diri,
tapi pemandangan, awan, gunung, lautan…
mungkin pemilik profilnya malu, karena wajahnya jelek;
bisa juga karena ia sedang diincar-incar orang,
sebagai akibat dosa masa lalu.
atau mungkin juga karena ia mau menutup diri,
tak percaya pada pemilik facebook;
di fesbuk,
ada juga orang yang berfoto dengan anak-anaknya,
mungkin agar terlihat sangat peduli pada keluarga,
padahal hatinya entah ke mana-mana dan di mana-mana.
di fesbuk,
ada juga profil tanpa foto orang,
tapi foto kaos, foto sepatu, foto celana,
mungkin si pemilik profilnya adalah seorang penjual bahan sandang.
di fesbuk,
ada juga profil dengan foto sepiring makanan,
bakso, ayam panggang, kambing guling, kari ayam, dan entah apa lagi,
mungkin si pemilik profil adalah seorang koki yang sedang meniti karir,
bisa juga si pemilik profil sedang diet ketat,
tubuhnya terlalu gendut tapi lidahnya tak kuasa berhenti mencicip-cicip.
di fesbuk,
ada juga foto pasangan mesra,
karena pemilik profilnya belum mampu untuk bisa semesra itu di dunia nyata.
di fesbuk,
ada juga profil tanpa foto diri pemiliknya,
tetapi foto pacar atau pasangannya,
mungkin karena ia merasa pasangannya adalah piala yang perlu dipajang,
bisa juga karena ia ingin dianggap cinta dan setia pada pasangannya,
padahal di dunia nyata matanya jelalatan mencari selingkuhan.
di fesbuk,
bahkan ada foto palsu,
fotonya bukan foto pemilik profilnya,
mungkin ia ingin menyamar, dan memakai identitas fesbuk palsu,
mungkin juga ia terlalu jelek untuk tampil di fesbuk.
di fesbuk,
ada juga profil dengan foto hewan piaraan: anjing, kucing, dan lainnya,
mungkin karena foto piaraannya jauh lebih cakep dari foto pemilik profilnya.
di fesbuk,
ada juga orang yang selalu berganti foto profil tiap hari,
mungkin pemilik profilnya bahkan bosan dengan wajahnya sendiri,
berharap agar orang lain ketika melihat profilnya tidak menggerutu atau kesal,
sebagaimana ia selalu kesal dan menggerutu ketika melihat cermin.
di fesbuk,
aku juga melihat profil tak berfoto,
mungkin ia masih baru di fesbuk, belum sempat unggah foto,
atau ia tak tahu cara mengunggah foto.
aku melihat orang-orang yang ingin tampil seperti sesuatu,
tapi tak mampu tampil sedemikian di dunia nyata.
aku melihat orang-orang yang malu pada diri sendiri,
lalu melampiaskannya di dunia maya.
aku melihat orang-orang terlalu percaya pada facebook,
aku mencium bau badan yang apek dan memuakkan di balik foto yang terlihat indah,
aku menjadi kenal dengan orang lain sedalam-dalamnya di dunia nyata dari dunia maya.
fesbuk telah membantu kita untuk menjadi hipokrit…
karena mungkin hipokritas adalah kunci untuk tetap bertahan di alam modern ini, ketika realita sudah terlalu banyak dan berlipat-lipat…
