suamiku…
Rambutnya sudah memutih, tetapi hatinya sungguh muda belia. Mungkin suamiku ini memang tak punya teman yang seumuran dengannya, karena seperti ujarnya suatu sore, “…semua orang seangkatanku telah luluh lantak dimakan makhluk buas bernama kasta sosial-ekonomi…”. Bahkan aku dan dia berbeda usia 14 tahun! Saban hari senyum cerahnya muncul ketika ia bersama orang-orang muda yang bersamanya melakukan banyak eksperimen sains, berdiskusi tentang ini-itu, dan banyak lagi. Melihat penampilannya dan keriangannya di ruang kerja pribadinya dengan anak-anak muda itu, tak akan ada yang bisa menduga kalau ia adalah seorang direktorat di bak sentral negeri ini, atau seorang komisaris di perusahaan sekuritas kenamaan, atau seorang ilmuwan dengan ratusan makalah ilmiah yang sering membuat bergidik orang untuk membacanya. Ia adalah suamiku yang meski tak banyak yang kupahami tentang dirinya, aku adalah belahan jiwanya, dan hanya ibu pertiwi yang bisa merebut perhatiannya dariku.
Entah bagaimana aku tahu, tiap cangkir kopi yang kuhidangkan di ruang kerjanya adalah jiwa bagi apa yang dicita-cita-kannya untuk banyak orang. “…pak Anton punya ide dahsyat menggunakan prinsip sains yang baru kami temukan kemarin untuk mengurangi kesenjangan antar kasta sosial-ekonomi…”, begitu kudengar obrolan dua anak muda yang baru saja berdiskusi di ruang kerja suamiku. Anton merupakan orang yang luar biasa di mataku, bukan karena aku adalah pasangan hidupnya atau karena aku telah jatuh cinta padanya sejak dulu. Ia merupakan orang yang bisa menjadi narasumber bagi apapun yang aku ingin tahu, mulai dari persoalan setrikaan atau lampu di rumah, karena ia adalah seorang insinyur yang sangat aktif hingga saat ini di laboratorium kecil di ruang kerjanya, soal agama dan kehidupan moral, karena ia adalah orang yang memeluk teguh keimanan dan nilai luhur spiritual, hingga persoalan negeri di sela kopi dan surat kabar sarapan pagi keluarga kami, karena ia adalah pejabat pemerintah di bidang ekonomi.
Entah bagaimana pula aku tahu, bahwa tiap kecup sayangku padanya memberinya energi yang luar biasa besar dalam hidupnya. Ia dililit hutang yang beberapa kali hampir menjebloskannya ke penjara dan mengancam jabatannya di pemerintahan. Tapi kami tidak tinggal di rumah mewah. Bukan untuk memuaskan kerakusan keluarga kami atas materi ia terlilit hutang-hutang itu, Ia berhutang untuk investasi berbagai bahan dan perlengkapan kimia mahal di laboratorium pribadinya. Kata orang-orang, hasil eksperimennya ingin mencari sumber-sumber dsar sistem pembakaran kimiawi. Kata orang pula, cepat atau lambat nama suamiku akan dapat mendunia dengan serangkaian percobaannya itu. Beberapa perabotan rumah kami pernah disita, karena ia ternyata menunggak hutang pada bank, yang digunakan untuk membiayai sebuah survei penelitian sosial tentang kehidupan para petani dan nelayan garapan di berbagai tempat di seantero bumi pertiwi. Kata orang-orang, ia dan rekan-rekan muda yang sebagian besar mahasiswa di perguruan tinggi kenamaan itu ingin membuat proposal model perpajakan baru berdasarkan perilaku molekul-molekul kimia karbon. Fiuh… aku tak mengerti lagi itu. Tapi aku teringat suatu ketika suamiku pernah berceletuk di sebuah seminar, “…ilmu pengetahuan harus menjadi landasan keputusan pemerintah, bukan ideologi atau keyakinan-keyakinan intuitif yang pada praktiknya justru mempersulit keadaan masyarakat…”. Semua itu kata orang, karena tak ada topik selain cinta dan kasih sayang, ketika dalam ruangan itu hanya ada aku dan dirinya.
Entah bagaimana aku tahu, ia mencurahkan kasih sayang, dan cinta setianya padaku dan nanti kelak anak-anakku, melalui kerja-kerja sibuknya selama matanya belum terpejam dan terbaring dalam pelukanku di tengah kelelahannya yang penat. Aku sadar meski tak banyak waktu yang diberinya untuk mendidik anak-anaknya, ia bercita-cita keadaan yang lebih baik di masa mendatang melalui karya-karyanya adalah hadiah terbaik dari generasi sekarang untuk anak-anaknya, bukan nasihat, bukan tabungan, bukan pula uang jajan. Kami pernah berdiskusi kelak akan menyekolahkan anak-anak di sekolah biasa yang tidak mahal, meski Anton tahu gaji dan koneksi akademisnya mampu menyekolahkan mereka ke sekolah-sekolah yang terbaik. Anton beberapa kali menegaskan bahwa anak-anak kami tak boleh dididik untuk menjadi ilmuwan seperti dirinya. Entah bagaimana aku bersepakat, anak-anak harus menjadi manusia yang memiliki kepribadian dan kecintaan pada tanah air lebih kuat daripada kecintaan pada hingar-bingar kawula muda, kegembiraan material yang dirayakan melalui uang saku, atau kecintaan pada kelas sosial-ekonomi tempat mereka ada. Bagi Anton, kegembiraan masyarakat sekarang hanya menunjukkan pada dunia bahwa kita hanyalah manusia-manusia bersandal jepit dan berperut busung lapar yang melompat-lompat kegirangan melihat hingar-bingar kemewahan pesta orang yang merayakan penaklukannya atas kita. Anak-anak muda negeri, termasuk anak-anak kami, harus menjadi kebanggaan bukan hanya bagi ayah-ibunya – karena itu tak perlu – tetapi kebanggaan bagi negeri, melalui karya menjadikan negeri yang saat ini terpuruk dalam kemiskinan dan keterbelakangan ini, bangkit dan memiliki kesadaran bahwa kita adalah bangsa yang besar.
Semua kenangan itu membuatku tersenyum, meski aku sadar pantasnya aku bersedih hari ini, tragedi keluarga itu terjadi tiga hari yang lalu. Saat ini, Yusuf, salah satu anak muda yang menjadi asisten Anton, membantuku berberes-beres di ruang kerja Anton yang sepi dan dingin tanpa kehadiran suamiku tercinta.
“Letih, bu?!”, tanya Yusuf padaku yang dari tadi melamun.
“Tidak, kok, Yusuf…,” ujarku sambil menyeka air mataku dan memaksa tersenyum, “…bisa kau ceritakan padaku bagaimana kejadiannya? …aku tak banyak tahu kejadian setelah malam itu ia dibawa sama polisi-polisi itu…”.
Anton duduk di dekatku. “Iya, pak Anton dituduh sebagai bagian dari birokrasi pemerintahan yang mendukung sistem ekonomi yang tengah rapuh sekarang, bu…”. Anton tercenung lama, “…padahal pak Anton justru ingin menyiapkan pranata sosial ekonomi untuk memperbaiki keadaan dan kebobrokan yang ada saat ini melalui ilmu pengetahuan…”.
Lama kami terdiam, “…pak Anton sempat melobi Marat, pimpinan gerakan rakyat…, agar ia diberi kesempatan dua hari merampungkan karya sains yang bisa menjadi inspirasi atas reformasi birokrasi…”. Tapi Marat tak menggubrisnya.
“…kemudian kepalanya dipancung di depan orang banyak…”, seruku sambil terisak dan sesenggukan tak kuasa membayangkan suamiku dipenggal lehernya oleh orang-orang yang mengaku bersemangat revolusioner.
“…iya, bu…”, timpal Yusuf. “…pak Anton sempat memberikan pekerjaan rumah buatku ketika ia hendak dipancung itu. Ia meminta kami untuk menghitung berapa kali matanya berkedip mulai dari saat dipancung hingga akhirnya ia mati… untuk penelitiannya tentang lamanya darah terpompa dari jantung ke bagian kepala…,” aku lihat Yusuf tak kuasa berkaca-kaca. “…pak Anton sangat mencintai sains, bu, dan ia memberi pelajaran pada kami semua tentang optimisme yang luar biasa. Bahkan hukuman penggal kepala pengadilan rakyat itu dijadikannya sebuah eksperimen yang dapat memperkaya khazanah ilmu…”.
Aku tersedu-sedu. Aku tak kuat mendengar cerita Yusuf itu. Aku ingin mati saja.
Yusuf melanjutkan ceritanya, “…tapi kami semua mendapatkan pekerjaan rumah lain darinya yang luar biasa penting, bu…”. Aku mendongak di sela isakanku, “…bahwa kami dan pak Anton itu adalah satu generasi, dan kami harus bertekad agar generasi berikutnya, lebih baik atas penerapan dari karya-karya kami dalam ilmu pengetahuan…”.
Aku terisak. Yusuf pun terdengar terisak. Dalam hatiku aku berbisik, “…Anton, aku mencintaimu seperti generasi masa depan Perancis dan seluruh dunia, kelak akan mencintaimu melalui karya-karyamu…”.
Suamiku Antoine Laurent Lavoiser, mati di guillotine 8 Mei 1794…