cinta mati…

Mataku membuka pelan. Seperti di film-film Holywood samar-samar aku melihat ranting pohon ada di atasku. Terawanganku melihat malam, dan jemariku terasa dingin. Di kejauhan kulihat sepeda motorku. Ah ya, aku teringat, tadi aku tergelincir. Tapi aneh, aku tak melihat ada orang yang menolong. Sepi sekali justru jalan raya ini. Aku mencoba duduk, lalu berdiri, dan mencoba berjalan meski harus tertatih. Mungkin kakiku terkilir. Aku berjalan, kelokan ini memang dahsyat, tajam, dan rem sepeda motor yang kukendarai sepertinya sudah parah blong-nya. Sudah dekat rumah kontrakanku, dan aku berjalan terus. Pintu gerbang kubuka, sepertinya tak ada orang di rumah. Orang sekontrakan sedang keluar mungkin.
Aku masuk, kurogoh kunci di sakuku. Pintu kubuka dan aku langsung masuk ke kamarku. Semuanya serba sepi dan entah mengapa, aku merasa sangat kedinginan. Kukenakan jaket, dan aku coba duduk di meja kerjaku. Kucoba duduk meluruskan kakiku yang terkilir dan siku lenganku yang agak memar. Tanpa sengaja, kulihat foto Sinta, kekasihku yang mestinya minggu depan rencananya akan bertunangan denganku. Ketika itu pula aku teringat, bahwa sebenarnya tadi malam sebelum kecelakaan itu aku dari rumahnya mengantar pulang. Sebelumnya kami bersedih-sedih.
Aku teringat ia terisak-isak menceritakan mantan kekasihnya. Belum ada kata putus memang antara Sinta dan Fauzi, ketika malam pertama kami berkencan dan saling mengutarakan isi hati. Fauzi sudah beberapa bulan pergi ke kampung halamannya, agrobisnis yang selama ini pun sudah membuatnya harus bertemu sesekali saja dengan Sinta. Sinta memutuskan bahwa karena sudah kehilangan kontak dengan Fauzi maka ia sudah berhak untuk menjalin hubungan denganku. Itu peristiwa kurang dari setahun yang lampau. Beberapa bulan kami berpacaran, Fauzi pernah datang sekali, dan saat itu pula secara mengerikan, Sinta memutuskanku. Sinta kembali ke cinta lamanya yang sudah berusia hampir tiga tahun. Tapi hanya beberapa hari, Sinta mendatangiku lagi dan menyatakan sangat menyesal dan menyadari bahwa ia menyayangiku lebih dari Fauzi. Aku masih ingat malam itu, dan aku minta ia memutuskan Fauzi agar aku menerimanya kembali. Tetapi sungguh malang, Fauzi raib lagi ke kota kampung halamannya nun di seberang pulau dengan nomor selular yang tak bisa dihubungi sama sekali.
Seiring berjalan waktu, Sinta hadir di sisiku, dan semakin hari aku semakin sadar bahwa aku sangat menyayanginya. Telah beberapa tahun aku tak pernah menjalin hubungan asmara dengan siapapun, namun pertemananku dengannya sungguh membuat hidupku ceria dan lupa akan trauma masa kecilku yang fobia terhadap percintaan. Orang tuaku sungguh tak akur dan hidup dalam harmoni keluarga yang penuh kepura-puraan. Semenjak akil balik memang aku beberapa kali menjalin cinta, tapi semua kandas, karena semua cinta sepertinya terlalu biasa, asmara yang akhirnya berujung pada hal-hal yang dangkal dan remeh-temeh yang membosankan dan lagi-lagi, aku terjerembab pada ketakutan akan perselingkuhan yang memporakporandakan impian masa kecilku. Aku takut menjalin komitmen…
Sesuatu yang aneh mendesir dalam darahku beberapa kali aku melihat sungging senyum Sinta. Ia memiliki keluguan yang indah yang mampu menerobos jantungku, menguasai pikiranku, dengan tawanya yang renyah serta sentuhan lembutnya di wajahku. Entah bagaimana, aku merasakan semua ketakutanku sirna ketika “cinta” menjadi sebuah cerita di antara kami. Aku terjerembab dalam kisah kasihku padanya. Cerita malam dan cerita gelap yang kubagikan padanya, dibalas dengan belaian lembut yang menyirnakan semua hal yang dapat membuatku gentar akan hidup, bahkan hubungan asmara. Mungkin itu yang disebut jatuh cinta. Aku menikmati tiap detik bersamanya. Sekonyong-konyong agresifitas yang bersumber pada kadar testosteron dalam darah ini memudar ketika aku berada di dekatnya. Ketika saat itu, Fauzi datang lagi padanya, dan ia memutuskanku, aku merasakan kerapuhan yang belum pernah kualami sebelumnya. Belum sempat aku kembali kepada trauma gelapku akan hidup percintaan ia datang lagi padaku, dan hingga kemarin aku merasa “sembuh”.
Bulan lalu kami merencanakan pertunangan kami, meski aku agak mengganjal karena belum pernah ada kata “putus” di antara mereka berdua. Tapi rasa sayangku padanya membuatku merasa yakin akan semua rencana pertunangan itu. Saat itu, sudah enam bulan semenjak pertemuan terakhirnya dengan Fauzi. Aku masih ingat ujaran Sinta untuk menenangkanku, “…aku tak mungkin jatuh ke lubang yang sama dua kali, sayang…”. Semua menjadi guncang, ketika kemarin Fauzi mendatangi Sinta.
Tiba-tiba aku merasakan ada yang aneh di diriku. Aku seperti merasuk ke dalam foto yang ada di genggamanku. Aku seperti berada di dalam ruangan remang di mana aku melihat Sinta tengah bermesraan berdua. Aku agak kaget, mungkin ini halusinasi atau apa, kalender dua tahun silam tergantung di ruangan itu. Mungkinkah aku masuk ke dalam mesin waktu dan melihat keduanya tengah ada dalam mabuk asmara di awal-awal kisah cinta mereka? Tiba-tiba kelebatan lain muncul. Aku melihat mereka berboncengan di sepeda motor Fauzi dan Sinta memeluknya di belakang. Kepalaku terasa sakit ketika aku melihat mereka berdua bertengkar, Fauzi agak kasar kulihat menghantamkan handphone itu ke meja. Namun sesaat kemudian mereka berdua berbaikan dan bermesraan seperti baru mulai pacaran beberapa waktu lalu. Di saat lain, aku juga melihat Sinta sedang sendiri dan terisak merindukan Fauzi yang entah di mana tanpa kabar. Kelebatan lain lagi mendengar joke-joke poligami Fauzi pada Sinta, sempat aku lihat juga raut wajah kebosanan di mata Fauzi saat itu.
Kepalaku kubenturkan keras ke meja, dan aku sadar, aku seolah berada pada dunia visual ketika Sinta menyatakan secara jujur bahwa masih ada berkas Fauzi di dalam hatinya tadi malam setelah ia bertemu langsung dengan Fauzi dalam agenda untuk memutuskan hubungannya dengan Fauzi secara verbal. Aku gemetar malam itu. Aku sadar bahwa aku ternyata belum mampu merebut hati Sinta secara utuh. Sekeras apapun keributan dan percekcokan dengan Sinta, Fauzi masih berada di dalam hatinya. Fauzi yang pernah setia, sayang, baik, hingga mempertahankan hubungan mereka hingga lebih dari dua tahun tiba-tiba muncul dalam detik-detik kata “putus” keluar dari mulut Sinta pada Fauzi. Justru ketika namaku keluar dari mulutnya, ada rasa kelat yang menyedakkan tenggorokan. Seluruh kisah kasihku dengan Sinta yang kucinta setulusnya raib ditelah sosok Fauzi yang pernah mencinta dengannya.
Saat itu aku tersadar dari mimpi indah asmaraku dengan Sinta. Mungkinkah aku bisa merebut hati Sinta? Dengan lembut ia berusaha melegakanku. Ia katakan bahwa akulah pilihan hatinya, dan kenangan masa lalu, serta hubungan hampir dua tahun dengan Fauzi saja yang mungkin membuatnya bimbang ketika akhirnya bertemu muka lagi dengan Fauzi. Trauma masa kecilku mendesakku kini, dan rasa sepi mulai menghantuiku lagi. Aku yang tadinya mungkin membuat dilema bagi Sinta, kini mengalami sendiri dilema antara kisah cintaku yang hampir melembaga dan kenyataan bahwa energiku makin habis untuk bisa merebut hati Sinta dari kungkungan dan cengkeraman bayang-bayang Fauzi di hatinya. Aku tak kuat dengan semua ini…
Tiba-tiba lamunanku lenyap oleh suara-suara ribut di luar. Ada keributan apa tengah malam begini? Aku berlari sontak keluar kamarku dan kulihat keramaian ada di sana. Kulihat Rudi, Andi, dan Deni teman sekontrakanku tergopoh-gopoh. Aku juga melihat sosok Sinta di sana, menangis. Tiba-tiba aku terkejut setengah mati. Aku lihat diriku ditidurkan di sofa. Apakah apa yang kualami ini seperti adegan di film-film? Aku berdiri di sana, dan sepertinya itu memang jasadku dan aku ini ibarat hantu gentayangan menyaksikan orang menangisi jasad tubuhku yang bergelimang darah segar. Aku berlari mendekati Sinta. Benar saja, aku ini adalah roh gentayangan sekarang. Aku tak bisa menyentuh tubuhnya. Aku berteriak-teriak memanggil namanya, tapi Sinta tetap terlihat terisak melihat jasadku di sana. Aku menjerit, menangis dan meraung, tapi tak ada yang mendengar. Aku terduduk lemas di sebelah jasadku.
Sepulang dari cerita jujur Sinta akan masih adanya berkas kasih Fauzi di hatinya, aku gamang. Sepeda motor yang remnya blong itu tergelincir di tengah dera hujan. Aku terlempar, kepalaku membentur setumpuk batuan di kelokan maut itu. Aku sudah harus berpulang. Aku tak mungkin bisa memilikimu seutuhnya, Sinta. Rasa sayangku padamu juga tak memungkinkanku untuk lari darimu dalam hidupku. Aku tak kuasa menahan rasa cemburuku pada Fauzi. Ingin rasanya aku menjadi cinta pertamamu seperti halnya Fauzi. Tapi takdir dan roda waktu tak mengizinkan itu. Sekalinya aku merasakan cinta yang membuatku merasa menjadi seseorang, tertumpu pada segitiga cinta yang membuatku merasa mual saat ini. Dalam hidup aku tak mungkin bisa ridho jika hatimu masih bersama Fauzi, meski tubuhmu terikat oleh pertunangan atau pernikahan denganku, Sinta…
Hanya kematian ini yang membuatku bisa belajar untuk melepasmu kembali ke pelukan Fauzi. Aku menyayangimu Sinta, dan kecelakaan ini telah membuktikan padamu bahwa cintaku padamu adalah cinta mati…