Marah

Lututku terasa agak gemetar ketika kakiku menginjak pedal kopling. Siku tanganku juga tak kuasa menahan getar sambil jemariku meraba-raba setir mobil yang sedang kukemudikan. Entah mengapa jantungku berdegup keras sejak pagi subuh tadi hingga sekarang ketika niatnya sudah hendak menjadi bagian tindakan yang berlandas pada amarah atas semuanya. Dadaku terasa sesak. Lampu hijau dan di belokan di depan sana, semuanya akan berakhir. Detak nadiku akan menghentikan semua kemampuanku merasa, karena apa yang dirasa adalah sumber derita bagi orang seperti aku. Hanya untuk orang-orang berjabatan tinggi dan konglomerat yang bergelimang harta sajalah indera ini berguna dan menjadi sumber nikmat. Lampu hijau. Mobil kubelokkan…

Masih terbayang wajah isteriku sambil memberikan ASI buat si kecil kami. Masih pagi, tapi sudah terpancar keletihan di wajahnya yang selalu cantik itu. “Sudah mau berangkat, kang Mas?”, meski bernada lemas, sesungging senyum terukir di bibirnya yang tipis dan indah itu. “Iya, Sri,” jawabku singkat sambil mendekat dan melemparkan belaian halus ke kepala si kecil, dan bibirku mencium keningnya. “Kamu baik-baik, ya…,” kataku sambil berlalu. Sudah beberapa minggu ini, kami hanya makan dari sisa warung pecel isteriku yang terpaksa juga mesti menjadi penyangga hutang makan siang supir taksi seperti diriku. Keadaan memang sulit. Harga BBM yang melambung tinggi karena berbagai alasan yang diutarakan dengan tampang bijak orang-orang di televisi. Bayi kami yang kurus meskipun tetap menunjukkan kelucuan dan kepolosan anak-anak yang masih memiliki luasnya kesempatan untuk hidup. Mungkin memang bagi umat manusia, hanya anak-anak yang berhak berbahagia, karena penderitaan sebesar apapun memiliki peluang untuk sirna karena waktu yang masih panjang untuk memberi kesempatan memenangkan lotere di kehidupan yang ibarat lanskap perjudian ini. Semakin bertambah usia seseorang, pilihan jalan makin sedikit, dan derita makin terasa sebagai derita.

Kakiku melangkah keluar. Aku melihat taksiku yang bergores putih di sepanjang sisi kirinya itu ditambah sebuah benjolan yang di sisi kanannya. Kemarin siang, ketika aku mengantarkan seorang penumpang ke sebuah kantor pemerintah yang berdiri sangat megah di pusat ibu kota yang sangat metropolis ini. Sekeluar dari lobi kantor, setelah penumpang taksiku turun dan menyuruhku menunggu di pelataran parkir, aku menuju pelataran parkir, dan membelokkan mobil ke arah parkiran dekat lobi. Sungguh, aku belum pernah masuk ke lingkungan kantor tersebut sebelumnya. Aku tak tahu bahwa di parkiran dekat mobil itu bertengger mobil seorang pejabat eselon dua. Aku memarkir, dan entah apa yang ada di benak dan lamunanku saat itu, tanpa sengaja saat memundurkan mobil ke dalam valet parkir, bemper mobilku menyentuh sedikit bemper sedan hitam itu yang membunyikan raungan alarm anti pencurian dan mengakibatkan tiga orang berseragam Satuan Pengamanan berlari mendekat, memaksa buka pintu taksiku dan meringkusku keluar. Berbagai bentakan silih berganti kudengar di bawah terik matahari siang itu. Sebuah tamparan bahkan sempat mendarat di pipiku karena memang aku tak menjawab makian, teriakan, dan amarah mereka karena energi yang masih minim oleh perut yang belum diberi jatah sarapan pagi. Seseorang dari mereka, mungkin supir dari mobil pejabat tersebut datang mendekat, sedikit bertelepon, dan kemudian tangannya yang tegap menyeretku untuk mengikutinya masuk ke dalam kantor yang tadi baru kutinggal itu.

Ternyata aku dicurigai sebagai orang yang selama ini menteror keluarga sang pejabat pemilik sedan hitam itu. Ia diteror terkait berbagai kasus yang atas nama bangsa dan negara ramai dikisahkan di koran dan televisi. Mungkin aku bukan bagian dari bangsa dan negara ini karena aku sendiri tak tahu-menahu kasus itu, meskipun di kamar tidurku senantiasa terpampang foto keluarga, dan di dalamnya ada almarhum kakek yang veteran Tentara Rakyat Indonesia. Aku diseret dan sepertinya mau dibawa untuk bertemu langsung dengan sang pejabat.

Terasa hawa sejuk yang berbeda ketika tubuhku berpindah dari udara luar suhunya cukup mampu memaksa keringat keluar meski perut lapar, ke dalam ruang lobby yang sejuk, luas, lengang, dan penuh wajah-wajah orang yang sepertinya selalu ingin tampak sopan dan simpatik. Sebuah lobby yang sangat mewah, kepalaku seolah terbang melihat langit-langit gedung yang tinggi dan berukir ornamen yang tak kumengerti namun terasa keindahannya bahkan bagi orang tak berpendidikan seperti aku. Kakiku seolah melayang, menginjakkan karpet permadani yang tebal dan sangat empuk. Karpet yang mungkin saja malah sepatu kulit kumalku malah menjadi pengotor karpet yang kelihatannya lebih bersih daripada selimut yang biasa kukenakan di malam hari. Meski tanganku sakit dilipat ke belakang oleh Satpam dan berjalan sambil didorong-dorong seperti seorang kriminal, ada percik-percik kenikmatan yang terasa ketika berada dalam lobby itu.

Kami melangkah terus, dan sempat berdiri menunggu di depan pintu lift. Sesaat pintu lift terbuka, tubuhku didorong kasar masuk ke dalam, dan aku makin takjub. Suasana di dalam lift itu bahkan mungkin lebih nyaman daripada kamar tidurku yang tak pernah absen dibersihkan isteriku tiap hari. Ada tulisan “SELASA”, di karpet permadani lift tersebut. Ya, karena memang hari itu adalah hari Selasa, dan itu menunjukkan bahwa ada permadani yang berbeda tiap hari yang menutupi lift  berukuran dua kali tiga meter itu. Ah, bersih dan mewah sekali…

Sesampai di ruangan sang pejabat aku diinterogasi. Lemas sekali mendengarkan tuduhan-tuduhan yang terlontar padaku. Seolah aku sengaja menabrakkan taksi ke sedan hitam milik sang pejabat, aku disidang dengan semburan ludah ditambah suara yang memekakkan telinga dan sesekali dibumbui cengkeraman di kerah leher baju dan satu atau dua tamparan dan ketokan di kepala. Aku dipaksa untuk mengaku melalui anggukan bahwa akulah yang selama ini menteror keluarga sang pejabat, mulai dari membuntuti isterinya, me-miss-call HP anak-anaknya, dan melemparkan telur busuk ke halaman rumahnya. Aku terjebak dengan senggolan pada mobilnya oleh karena konsentrasi yang sirna oleh kalori yang habis untuk menahan rasa lapar. Namun mereka akhirnya letih juga. Aku tak terbukti melakukan kesalahan apapun kecuali memberi goresan sedikit pada mobil sang pejabat. Tapi sungguh, akibat yang kuperoleh tak sesederhana itu, setelah tiga jam dijejali dengan makian dan paksaan bak interogasi di penjara Guantanamo.

Belum lagi aku berhasil menghilangkan gontai langkah kaki, HP bututku berbunyi, dan di seberang sana, atasanku, mandor taksi yang kukemudikan memberi perintah untuk menyerahkan mobil dan semua surat-surat kelengkapanku sebagai supir taksi di perusahaan. Sungguh mahal harga kekesalan seorang pejabat tinggi…

Ah, tapi itu kemarin. Pagi ini, dengan perut yang sudah diisi dengan bubur kacang hijau hutangan di warung dekat rumah, aku datang lagi ke kantor yang mulai dari bangunan, pagar, hingga halamannya yang indah dan megah dibiayai oleh pajak masyarakat itu. Sekarang niatnya berbeda. Mobil hitam yang kemarin kugores dengan plat nomer bertanda “RI sekian-sekian” itu kudekati dengan kecepatan yang biasa ada di jalan tol. Seratus dua puluh kilometer per jam dan aku pejamkan mataku.

Lututku terasa agak gemetar ketika kakiku menginjak pedal kopling. Siku tanganku juga tak kuasa menahan getar sambil jemariku meraba-raba setir mobil yang sedang kukemudikan. Entah mengapa jantungku berdegup keras sejak pagi subuh tadi hingga sekarang ketika niatnya sudah hendak menjadi bagian tindakan yang berlandas pada amarah atas semuanya. Dadaku terasa sesak. Lampu hijau dan di belokan di depan sana, semuanya akan berakhir. Detak nadiku akan menghentikan semua kemampuanku merasa, karena apa yang dirasa adalah sumber derita bagi orang seperti aku. Hanya untuk orang-orang berjabatan tinggi dan konglomerat yang bergelimang harta sajalah indera ini berguna dan menjadi sumber nikmat. Lampu hijau. Mobil kubelokkan… Masih terdengar suara “braakk!!” di telingaku, dan tubuhku yang segaja tak kusangga dengan sabuk pengaman itu menabrakkan diri ke sedan hitam…. Sudah itu aku tak tahu apa-apa lagi… Semua gelap… Dendamku terbalas sudah, meski lamat-lamat di antara sakratul maut aku melihat pemandangan isak tangis Sri sambil menggendong anakku… Semua sudah selesai!


Jakarta, 7 Februari 2010

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.