seribu tahun lagi

Posted in nuit d'écriture on August 31, 2009 by quicchote

Yakinkan aku matahariku, bahwa kau akan senantiasa bersinar besok, dan besoknya lagi, dan seterusnya.

Goreskan cakarmu, merpatiku, bahwa kicaumu akan selalu berada di sana, hingga kehampaan datang mengkalbu.

Semburkan airmu, mata airku, bahwa banyumu tak akan membiarkan aku selalu menunggu lepasnya dahaga ini.

Biarkan segala sesuatu mekar ketika muda,
Karena kemudaan kita tak akan pernah berakhir dengan hari tua yang sia-sia.

Biarkan kelegaan itu menjadi desah nafasku,
Karena semua akan menjadi sesak oleh malam-malam yang berlalu tanpa memejamkan mata.

Biarlah ketenangan menjadi bahasa muda kita,
Karena hanya yang muda yang punya cinta, cita dan menjadi kersa demi dunia yang tentram kerta raharja.

Jangan biarkan semua kelu karena ragu…
Jangan biarkan semua haru karena menunggu…
Jangan biarkan semua sirna karena waktu berlalu, selalu berlalu…

Mari tetap bersemangat, karena kita akan tetap hidup hingga seribu tahun lagi!

Setrasari, post-Agustus 2009

sajak ujung jalan

Posted in nuit d'écriture on August 15, 2009 by quicchote

ingin kurengkuh semua pengetahuan, agar aku bisa rasakan kebesaran-Mu
ingin kukunjungi semua tempat, agar aku bisa menemui-Mu
ingin kuhadang semua ombak, agar aku merasa dekat dengan-Mu
ingin kuuntai semua kata, agar aku selalu mengenang-Mu
ingin kusayangi dia sepenuh hati, agar aku rasakan cinta-Mu

aku lari dari rumah menjemput sebongkah buah ranum di belantara jagat
ada ular yang siap memuntahkan racunnya di kakiku

aku terbang dari dahan ke dahan, namun sayap patah ini tak bertenaga lagi
ada secarik kertas yang tiba di depan pintu menulis puisi untuk kenaifanku

untuk apa bersenda gurau jika tawa itu mendustai sedu sedan
teriakan itu terdengar senyap di hiruk pikuk yang ramai

lantas kemana mesti memalingkan kepala,
atau… aku menunduk saja dan biarkan kaki tak juga melangkah?

16 Agustus 2009

Dulsini

Posted in nuit d'écriture on April 26, 2009 by quicchote

Kepala itu terdongak lagi lebih tinggi sekarang. Tak ada yang meninggalkan jejak seperih ini kecuali cinta. Cita-cita merupakan api yang tak pernah menyurutkan cinta. Dan karena yang muda yang memiliki cita-cita, maka hanya yang muda yang memiliki cinta.

Setiap generasi berkesempatan untuk mengubah dunia. Celakalah negeri yang tak mau mendengarkan anak-anak kecil itu, karena melodi terindah adalah alunan nada-nada yang  belum pernah kita dengarkan. Cinta sejati menghilangkan seluruh rasa takut. Cinta itu tak pernah bisa berubah, selalu setia dalam waktu dan ruang. Ia tak pernah bisa dijangka dalam skala tertentu. Cinta merupakan kuanta yang bebas kuantifikasi.

Rambutnya yang sepundak menjadi bingkai senyumnya yang lugu dan menenangkan. lady dulcineaBukan obat, bukan opium, apalagi candu yang serta merta berasal dari, oleh, dan untuk molaritas hormonal maupun terkait jaring-jaring syaraf di sekujur tubuh. Wajahnya bak rupa gadis kecil, namun hati dan pikirannya adalah seorang wanita sejati. Senyumannya menggoreskan sebersit kebahagiaan di tengah congkaknya dunia dengan segala kebinalan, keliaran, dan tangis isak atas fluktuasi emosional dan ketegangan yang mau tak mau bersifat niscaya ini. Tak seperti atlit yang mesti berlatih sekeras intan, atau ilmuwan yang mesti berfikir sekeras permata dalam ruang-ruang sempit untuk menyuaran suara profetik bagi dunia, sepertinya memang ada orang yang cukup tersenyum, maka dunia akan menjadi cerah dan semakin dekat dengan keberadaan yang Suci.

Hanya ada optimisme di sinar matanya, karena ia bersumber pada keluguan akan pengabdian anonimus atas sang Kala. Kita sudah lupa bahasa-bahasa itu. Kita telah lupa dan merasa cinta bisa kita reduksi yang sering membuat konyol.  Orang menjadi merasa bijak dan merasa menjadi pemimpin meski tak pernah bisa memimpin orang lain, pun diri sendiri. Celakalah mereka yang tak mendengar yang lebih muda, tetapi lebih celaka lagi mereka yang muda tapi merasa dirinya telah tua.

Tetaplah menjadi muda, karena hanya yang muda yang mampu merasakan cinta, dan hidup ini terlalu sia-sia dan hampa tanpa cinta.

Tetaplah tertawa dan berbahagialah senantiasa karena tak ada batas akan imajinasi, kreasi, dan keberanian.

Tetaplah tersenyum karena dunia akan suram tanpa senyumanmu dan semua karya akan menjadi sirna keindahannya tanpa kehadiranmu dalam abstraksi, bebas ruang, bebas waktu.

Tegakkanlah kepalamu dan melangkahlah terus. Hati gampang berubah. Dunia ini berubah. Generasi berganti. Namun hatinya tetap bertoreh untuk cinta dan keindahan. Adalah kegelian hati bagi mereka atas orang-orang yang berketetapan hati.

Tetaplah tersenyum, demi dunia ini, demi cinta!

27 April 1997

Takut…

Posted in Fiction on March 27, 2009 by quicchote

sepeda...

Malam itu malam biasa. Aku bersepeda hendak pulang. Benar-benar tak ada yang istimewa malam itu. Jantungku pelan-pelan berdetak makin kencang mengiringi metabolisme yang menumpukkan asam laktat di sela-sela ototku mengayuh sepeda. Semilir angin menerpa. Hampir dini hari malam ini. Semua biasa saja, hingga punggungku diterpa sebuah lampu sorot jauh sebuah mobil di belakangku. Entah insting apa yang ditinggalkan nenek moyang spesies manusia, secara ritmik aku mengayuh sepeda lebih cepat, padahal sudah jelas mobil jenis apapun akan segera mendahului kayuhan sepedaku.
Read more »

Yang sejati dan yang bukan

Posted in Fiction on March 13, 2009 by quicchote

je t'aimeMalam itu adalah malam laknat bagiku, hidupku, dan mungkin masa depanku. Dua lilin yang romantis dengan remang cahaya romansa di relung hati mengiringi makan malamku berdua, sekembali Henri bertugas dari Paris. Aku mengenakan gelang bertuliskan “Paris, Je t’aime” di tangan kananku sebagai oleh-oleh darinya. Mungkin aku terlalu bodoh untuk tak memahami tulisan dengan ornamentasi menara Eifel itu. Henri terlihat makin segar sekembali dari tugasnya di luar negeri ini, dan kehadirannya setelah tiga bulan dipisahkan jarak geografis yang jauh luar biasa dan hanya sesekali berbumbu pesan singkat SMS atau wall-to-wall communication Facebook membuat malam ini semestinya tak mungkin menjadi malam jahanam bagi hidupku. Pertemuan setelah sekian lama berpisah dengan suamiku tercinta, adalah anugerah kebahagiaan yang luar biasa bagiku. Read more »

Siapa yang kriminal?

Posted in Fiction on December 19, 2008 by quicchote

img_0297Aku kriminal? So What? Aku penjahat? Trus kenapa? Aku maling? Lantas? Aku tak bermoral? Cukup bicara moral! Aku sadar aku mungkin jadi salah satu penghuni neraka. Aku tahu aku ini orang yang tak mungkin menikmati surga. Aku adalah binatang yang paling biadab. Aku tak peduli. Aku hidup toh untuk hari ini. Besok, aku tak tahu. Kau tak bisa bilang aku tak beriman. Meski pekerjaanku tak akan pernah ada yang memuji. Aku memang tak berharap dipuji, sama seperti aku juga tak pernah peduli jika siapapun memaki diriku, mendo’akanku agar mendapat celaka. Aku tak peduli. Read more »

Andini masih sendiri…

Posted in Fiction on November 19, 2008 by quicchote

Ini sore yang biasa,  dan ada tiga foto di genggamanku saat ini. Aku tersenyum memandangi foto paling atas. Sesosok tubuh ringkih yang dari tatapan matanya aku tahu dia seorang pemalu. Roni n4amanya. Lelaki pertama yang masuk ke dalam hidupku. Ia adalah bintang di kelasku. Tapi bukan bintang-bintang seperti yang ada di benak gadis-gadis saat ini tentunya. Ia bukan bintang yang lolos masuk ke acara idol-idol-an. Ia adalah bintang karena ia paling cepat menghitung akar-akar sebuah persamaan kuadrat, menyelesaikan persoalan tumbukan benda, tapi juga paling fasih menuturkan kisah-kisah yang mengitari ditemukannya efek fotolistrik, bagaimana menghitung usia matahari, bahkan dengan lentik jemarimu memainkan lagu-lagu di piano sekolah. Ia adalah seseorang yang menjadi sahabatku, dan sungguh malang bagi diriku ketika lambat laun aku mulai jatuh hati padanya. Aku masih ingat kekonyolan ketika itu aku berlari-lari masuk ke dalam kelas, dan teman sekelas yang tengah berdiri di dekat pintu, Rudi, dengan sengaja menyorongkan kakinya, sehingga aku tersandung jatuh, dan rok abu-abuku tersibak. Kau yang sangat pemalu, tak suka berkelahi, anak kesayangan guru, tiba-tiba berdiri dan mendorong tubuh Rudi yang jauh lebih tinggi besar darimu. Saat itu aku sadari bahwa meski kita masih remaja, Roni menjadi pembela kehormatanku. Aku tahu dan kuungkapkan perasaan itu bukan dengan kata-kata, tapi dengan kelembutan yang amat hati-hati aku torehkan obat merah ke luka memar di keningmu setelah berkelahi dan harus menghadapi sidang guru hari itu untuk membelaku. Read more »

Pesan terakhir

Posted in Fiction on November 6, 2008 by quicchote

Pelan-pelan kubuka surat itu. Pelan-pelan kubaca isinya. Air asin mengandung garam dari mataku menitik di atasnya. Aku tahu aku tak akan bisa bertemu dengannya. Aku tahu bahwa saat ini dia adalah orang yang tepat. Aku tahu, dan pengetahuan sepertinya sering datang terlambat. Pengetahuan erat terkait dengan penyesalan, karena ketidaktahuan dan kebodohan adalah sumber dari segala sumber penyesalan. Pengetahuan itu suci, karena kebenaran itu abadi; biarpun hanya sebuah kebenaran kecil dalam rintik kehidupan sehari-hari yang tersepele sekalipun. Satu lembar panjang surat itu. Kubaca lamat-lamat. Aku ingin menikmati semua titik tinta yang memunculkan huruf, kata, dan kalimat di dalamnya. Aku tahu kini ketersiksaanmu dengan hanya melihat goyahnya pena ketika huruf-huruf yang kau tulis jauh dari teratur. Kubaca surat itu… Read more »

Aku bicara untuk generasimu, Maria!

Posted in Fiction on October 17, 2008 by quicchote

Bis yang kami tumpangi akhirnya berhenti di kawasan paling utara negeri ini. Semenjak kepergian ibu dari anakku satu-satunya, aku hanya memiliki satu alasan untuk hidup, Maria. Bis meninggalkan kami di pinggiran jalan, dan kami harus menempuh perjalanan kaki melintasi padang yang menguning ditambah efek petang yang mulai mereda. Angin menderu kencang. Sekonyong-konyong, putri semata wayangku ini bergumam…

Read more »

Mati itu Cinta

Posted in Fiction on October 7, 2008 by quicchote

Mestinya kota ini adalah kota yang cukup panas, tapi entah mengapa, ketika aku berdiri di sini semilir angin terasa begitu dingin dan sejuk. Di depanku tegak berdiri nisanmu, setegak namamu yang membebaskan, Liberty. Kau adalah kekokohan dan kekukuhan sikap. Kau mungkin merasa bahwa waktu yang tak memperbolehkan kita berdua menjalani hidup bersama, adalah semata-mata kesalahanmu sebagaimana kau tulis dalam surat yang baru bisa kubaca setelah kita menjadi renta dan tua. Bahkan setelah ajal menjemputmu, aku baru sadar bahwa justru kerinduan akan kebebasan dan kekukuhan sikap yang terbungkus dan terlihat oleh orang lain sebagai bentuk yang terlalu pemalu, merupakan tanda bagiku, bahwa kau adalah orang yang benar-benar layak untuk dicintai, disayangi, dan terlalu mulia untuk dimiliki… Read more »