Kepala itu terdongak lagi lebih tinggi sekarang. Tak ada yang meninggalkan jejak seperih ini kecuali cinta. Cita-cita merupakan api yang tak pernah menyurutkan cinta. Dan karena yang muda yang memiliki cita-cita, maka hanya yang muda yang memiliki cinta.
Setiap generasi berkesempatan untuk mengubah dunia. Celakalah negeri yang tak mau mendengarkan anak-anak kecil itu, karena melodi terindah adalah alunan nada-nada yang belum pernah kita dengarkan. Cinta sejati menghilangkan seluruh rasa takut. Cinta itu tak pernah bisa berubah, selalu setia dalam waktu dan ruang. Ia tak pernah bisa dijangka dalam skala tertentu. Cinta merupakan kuanta yang bebas kuantifikasi.
Rambutnya yang sepundak menjadi bingkai senyumnya yang lugu dan menenangkan.
Bukan obat, bukan opium, apalagi candu yang serta merta berasal dari, oleh, dan untuk molaritas hormonal maupun terkait jaring-jaring syaraf di sekujur tubuh. Wajahnya bak rupa gadis kecil, namun hati dan pikirannya adalah seorang wanita sejati. Senyumannya menggoreskan sebersit kebahagiaan di tengah congkaknya dunia dengan segala kebinalan, keliaran, dan tangis isak atas fluktuasi emosional dan ketegangan yang mau tak mau bersifat niscaya ini. Tak seperti atlit yang mesti berlatih sekeras intan, atau ilmuwan yang mesti berfikir sekeras permata dalam ruang-ruang sempit untuk menyuaran suara profetik bagi dunia, sepertinya memang ada orang yang cukup tersenyum, maka dunia akan menjadi cerah dan semakin dekat dengan keberadaan yang Suci.
Hanya ada optimisme di sinar matanya, karena ia bersumber pada keluguan akan pengabdian anonimus atas sang Kala. Kita sudah lupa bahasa-bahasa itu. Kita telah lupa dan merasa cinta bisa kita reduksi yang sering membuat konyol. Orang menjadi merasa bijak dan merasa menjadi pemimpin meski tak pernah bisa memimpin orang lain, pun diri sendiri. Celakalah mereka yang tak mendengar yang lebih muda, tetapi lebih celaka lagi mereka yang muda tapi merasa dirinya telah tua.
Tetaplah menjadi muda, karena hanya yang muda yang mampu merasakan cinta, dan hidup ini terlalu sia-sia dan hampa tanpa cinta.
Tetaplah tertawa dan berbahagialah senantiasa karena tak ada batas akan imajinasi, kreasi, dan keberanian.
Tetaplah tersenyum karena dunia akan suram tanpa senyumanmu dan semua karya akan menjadi sirna keindahannya tanpa kehadiranmu dalam abstraksi, bebas ruang, bebas waktu.
Tegakkanlah kepalamu dan melangkahlah terus. Hati gampang berubah. Dunia ini berubah. Generasi berganti. Namun hatinya tetap bertoreh untuk cinta dan keindahan. Adalah kegelian hati bagi mereka atas orang-orang yang berketetapan hati.
Tetaplah tersenyum, demi dunia ini, demi cinta!
27 April 1997