Paradoks

Posted in Uncategorized on September 22, 2011 by quicchote

Umurnya yang 20-an itu takkan terlihat tanpa make-up. Tanpa kosmetika, usia yang terpancar dari wajahnya akan terlihat makin tua. Tapi mungkin ketuaan dini itu bukan semata-mata karena lipstik, bedak, dan perona pipi murahan yang biasa ia kenakan. Pekerjaannyalah yang membuatnya selalu keluar malam, menemani siapapun yang dipanggil “oom”, berapapun usianya, sepanjang di koceknya uang kertas berlapis-lapis siap untuk disawerkan padanya tatkala mendendangkan lagu dangdut. Lagu yang sangat satir menghina wajah mesum oom-oom senang atas perempuan yang lebih muda, namun tatkala ia dendangkan oom-oom tersebut malah berjoget senang, tentu pula dengan wajah mesumnya dengan lirikan beringas ke bagian-bagian tubuhnya yang memang dibalut kain yang bukan berfungsi untuk menutup tubuh, tapi justru memberi kesan sensual. Read more »

teka-teki tubuh bhara

Posted in nuit d'écriture on October 31, 2010 by quicchote

Kami adalah buku. Penyair prapanca boleh sebut kami biara orang-orang Wajardha. Orang-orang Mataram boleh sebut tempat ini sebagai sebagai tempat yang tabu, saat mas Dhana yang memberontak PakuBuwono I ditangkap di sini dan dihukum mati. Dan kami biarkan saja Kanjeng Pangeran Monconagoro dari Yogya terkesiap melihat arca seorang ksatria terkurung di sini. Tetapi kami sendiri adalah buku besar tentang hidup sudra, ksatria, wiyasa, dan brahmana yang mencari hidup nirwana. Kau perlu berjalan kaki 1 kilometer lebih untuk membaca kami. Tak ada huruf-huruf di sini. Yang ada adalah kisah-kisah yang digambar dengan pena abadi ditatah ke permukaan batu gunung. Kisah-kisah Mahakarmavibhangga, Jataka, Jatakamala, Avadana, hingga Gandavyuha dan Lalitavistara.

Kami adalah gunung. Berputar-putar mengelilingi kami dalam tarian pengetahuan tentang laut meski kau di pegunungan. Bernyanyi-nyanyi tentang perbintangan meski kau di bumi. Begitu kau membaca kami, maka dirimu dan dunia luar putus! Kau terpenjara dalam pelajaran budhi dharma akan derita hidup, samsara yang akan membawamu ke swargaloka kebijaksanaan tertinggi yang diperbolehkan semesta mengisi serabut abu-abu di bawah rambutmu. Read more »

dik…

Posted in Uncategorized on June 10, 2010 by quicchote

Dik…
seperti yang kau tahu, hanya bunda pertiwi yang bisa alihkan sayangku padamu…
orang-orang ini mau merongrong dan perkosa bunda pertiwi…
jadi maafkan kalau aku mesti pulang lebih malam dari pegawai VOC dan pamong praja itu…

Dik…
aku tak bisa wariskan apapun buatmu dan anak-anakmu kelak,
Selain jejak langkahku yang selalu dibimbing kejujuran dan rasa cinta dan setiaku padamu…
dirimu adalah jiwa bagiku dan benteng terakhir dari perlawananku akan getirnya dunia ini…
ingatlah bahwa kesetiaanku padamu adalah ungkapan rasa hormatku pada Sang Khalik dan pada seluruh ibu di seluruh muka bumi ini, termasuk ibu pertiwi.

Dik,
ketahuilah bahwa aku bahagia ketika kau marah
saat uang belanja tak cukup,
dan kecerdasanmu sebagai isteri yang bijak mengasah rasa cinta dan sayangku padamu setiap hari.
Aku ingin kau tahu bahwa jahitanmu di bajuku yang sobek itu
membuat pakaianku seperti berhias gelimangan kuasa dan harta
yang memberiku energi untuk terus berkarya dan tak henti menyenandungkan lagu cinta pada negeri.
Sadarilah bahwa setiap hidangan makan dan minum darimu
adalah hadiah bagi semesta,
amarah dan sumber kutuk bagiku jika aku bermalas-malasan.
Setiap hadirmu adalah penyejuk bagi siangku dan selimut bagi malamku.
Aku bahagia untuk tahu bahwa diriku adalah hal yang paling menjadi dambaanmu.

Dik,
jika kita punya anak nanti, aku tak mau mereka mengenangku karena aku membanting tulang kesana kemari,
agar bisa memanjakan mereka dengan mainan  baru, karena meraka bukan peliharaan kita,
agar bisa membubuhi mereka dengan uang jajan untuk lampiaskan masa muda di kantin sekolah,
agar bisa membuat mereka girang dengan hadiah bak seekor anjing yang ekornya bergoyang senang melihat majikannya pulang,
agar bisa menyekolahkan mereka setinggi langit,
karena aku tak mau memberi mereka candu dan ganja modernitas
yang berbuntut pada kesombongan intelektual
yang hanya akan mengasingkanmu dari masyarakatmu, dari aku dan ibumu.

Dik,
aku juga tak mau anak-anak kita membenci kita,
karena terlalu banyak petuah dan nasihat,
karena mereka bukanlah murid kita dan kita bukan guru mereka.
Aku takkan menganggap kalian lebih cakep dan pintar di banding teman sebaya mereka,
karena aku sangat takut negeri ini di masa depan
dipenuhi oleh anak-anak jelek dan bodoh dan hanya anal-anak kita saja yang cakep dan pintar.
Kita tak perlu membangga-banggakan mereka
karena mereka bukan piala
dan mereka punya hak dan kewajiban yang sama dengan anak-anak lain
di dunia ini untuk berlaku jujur dan ikhlas dan hidup.
Mereka dan anak-anak lain yang bukan anak kita adalah masa depan negeri…

Dik,
ingatkan mereka kelak bahwa ayah mereka mewarisi cinta kepada negeri,
dan ketika mereka menghitung betapa nikmatnya hidup di negeri ini,
mereka tahu ayahnya adalah bagian dari sumber kenikmatan itu.
Biarlah anak-anak kita berterima kasih karena semua yang terhidang di meja,
apakah itu penuh makanan atau kosong tanpa makanan sama sekali,
adalah halal dan keluar dari keikhlasan perjuangan nafkah seorang ayah.
Janganlah anak-anak kita menjadi sombong di antara teman-temannya,
karena mereka tahu, semua anak lain adalah saudara.

flyover paspati bandung 2010

fesbuk [at] facebook

Posted in nuit d'écriture on May 16, 2010 by quicchote

di fesbuk,
aku melihat orang tampil up-close dengan senyum lebar dan cerah sekali,
mungkin ia sedang berkampanye politik,
berharap pendukung di masyarakat maya fesbuk.
Read more »

suamiku…

Posted in Fiction on April 6, 2010 by quicchote

Rambutnya sudah memutih, tetapi hatinya sungguh muda belia. Mungkin suamiku ini memang tak punya teman yang seumuran dengannya, karena seperti ujarnya suatu sore, “…semua orang seangkatanku telah luluh lantak dimakan makhluk buas bernama kasta sosial-ekonomi…”.  Bahkan aku dan dia berbeda usia 14 tahun! Saban hari senyum cerahnya muncul ketika ia bersama orang-orang muda yang bersamanya melakukan banyak eksperimen sains, berdiskusi tentang ini-itu, dan banyak lagi. Melihat penampilannya dan keriangannya di ruang kerja pribadinya dengan anak-anak muda itu, tak akan ada yang bisa menduga kalau ia adalah seorang direktorat di bak sentral negeri ini, atau seorang komisaris di perusahaan sekuritas kenamaan, atau seorang ilmuwan dengan ratusan makalah ilmiah yang sering membuat bergidik orang untuk membacanya.  Ia adalah suamiku yang meski tak banyak yang kupahami tentang dirinya, aku adalah belahan jiwanya, dan hanya ibu pertiwi yang bisa merebut perhatiannya dariku.

Read more »

cinta mati…

Posted in Fiction on February 14, 2010 by quicchote

Mataku membuka pelan. Seperti di film-film Holywood samar-samar aku melihat ranting pohon ada di atasku. Terawanganku melihat malam, dan jemariku terasa dingin. Di kejauhan kulihat sepeda motorku. Ah ya, aku teringat, tadi aku tergelincir. Tapi aneh, aku tak melihat ada orang yang menolong. Sepi sekali justru jalan raya ini. Aku mencoba duduk, lalu berdiri, dan mencoba berjalan meski harus tertatih. Mungkin kakiku terkilir. Aku berjalan, kelokan ini memang dahsyat, tajam, dan rem sepeda motor yang kukendarai sepertinya sudah parah blong-nya. Sudah dekat rumah kontrakanku, dan aku berjalan terus. Pintu gerbang kubuka, sepertinya tak ada orang di rumah. Orang sekontrakan sedang keluar mungkin.

Read more »

Marah

Posted in Fiction on February 9, 2010 by quicchote

Lututku terasa agak gemetar ketika kakiku menginjak pedal kopling. Siku tanganku juga tak kuasa menahan getar sambil jemariku meraba-raba setir mobil yang sedang kukemudikan. Entah mengapa jantungku berdegup keras sejak pagi subuh tadi hingga sekarang ketika niatnya sudah hendak menjadi bagian tindakan yang berlandas pada amarah atas semuanya. Dadaku terasa sesak. Lampu hijau dan di belokan di depan sana, semuanya akan berakhir. Detak nadiku akan menghentikan semua kemampuanku merasa, karena apa yang dirasa adalah sumber derita bagi orang seperti aku. Hanya untuk orang-orang berjabatan tinggi dan konglomerat yang bergelimang harta sajalah indera ini berguna dan menjadi sumber nikmat. Lampu hijau. Mobil kubelokkan…

Read more »

seribu tahun lagi

Posted in nuit d'écriture on August 31, 2009 by quicchote

Yakinkan aku matahariku, bahwa kau akan senantiasa bersinar besok, dan besoknya lagi, dan seterusnya.

Goreskan cakarmu, merpatiku, bahwa kicaumu akan selalu berada di sana, hingga kehampaan datang mengkalbu.

Semburkan airmu, mata airku, bahwa banyumu tak akan membiarkan aku selalu menunggu lepasnya dahaga ini.

Biarkan segala sesuatu mekar ketika muda,
Karena kemudaan kita tak akan pernah berakhir dengan hari tua yang sia-sia.

Biarkan kelegaan itu menjadi desah nafasku,
Karena semua akan menjadi sesak oleh malam-malam yang berlalu tanpa memejamkan mata.

Biarlah ketenangan menjadi bahasa muda kita,
Karena hanya yang muda yang punya cinta, cita dan menjadi kersa demi dunia yang tentram kerta raharja.

Jangan biarkan semua kelu karena ragu…
Jangan biarkan semua haru karena menunggu…
Jangan biarkan semua sirna karena waktu berlalu, selalu berlalu…

Mari tetap bersemangat, karena kita akan tetap hidup hingga seribu tahun lagi!

Setrasari, post-Agustus 2009

sajak ujung jalan

Posted in nuit d'écriture on August 15, 2009 by quicchote

ingin kurengkuh semua pengetahuan, agar aku bisa rasakan kebesaran-Mu
ingin kukunjungi semua tempat, agar aku bisa menemui-Mu
ingin kuhadang semua ombak, agar aku merasa dekat dengan-Mu
ingin kuuntai semua kata, agar aku selalu mengenang-Mu
ingin kusayangi dia sepenuh hati, agar aku rasakan cinta-Mu

aku lari dari rumah menjemput sebongkah buah ranum di belantara jagat
ada ular yang siap memuntahkan racunnya di kakiku

aku terbang dari dahan ke dahan, namun sayap patah ini tak bertenaga lagi
ada secarik kertas yang tiba di depan pintu menulis puisi untuk kenaifanku

untuk apa bersenda gurau jika tawa itu mendustai sedu sedan
teriakan itu terdengar senyap di hiruk pikuk yang ramai

lantas kemana mesti memalingkan kepala,
atau… aku menunduk saja dan biarkan kaki tak juga melangkah?

16 Agustus 2009

Dulsini

Posted in nuit d'écriture on April 26, 2009 by quicchote

Kepala itu terdongak lagi lebih tinggi sekarang. Tak ada yang meninggalkan jejak seperih ini kecuali cinta. Cita-cita merupakan api yang tak pernah menyurutkan cinta. Dan karena yang muda yang memiliki cita-cita, maka hanya yang muda yang memiliki cinta.

Setiap generasi berkesempatan untuk mengubah dunia. Celakalah negeri yang tak mau mendengarkan anak-anak kecil itu, karena melodi terindah adalah alunan nada-nada yang  belum pernah kita dengarkan. Cinta sejati menghilangkan seluruh rasa takut. Cinta itu tak pernah bisa berubah, selalu setia dalam waktu dan ruang. Ia tak pernah bisa dijangka dalam skala tertentu. Cinta merupakan kuanta yang bebas kuantifikasi.

Rambutnya yang sepundak menjadi bingkai senyumnya yang lugu dan menenangkan. lady dulcineaBukan obat, bukan opium, apalagi candu yang serta merta berasal dari, oleh, dan untuk molaritas hormonal maupun terkait jaring-jaring syaraf di sekujur tubuh. Wajahnya bak rupa gadis kecil, namun hati dan pikirannya adalah seorang wanita sejati. Senyumannya menggoreskan sebersit kebahagiaan di tengah congkaknya dunia dengan segala kebinalan, keliaran, dan tangis isak atas fluktuasi emosional dan ketegangan yang mau tak mau bersifat niscaya ini. Tak seperti atlit yang mesti berlatih sekeras intan, atau ilmuwan yang mesti berfikir sekeras permata dalam ruang-ruang sempit untuk menyuaran suara profetik bagi dunia, sepertinya memang ada orang yang cukup tersenyum, maka dunia akan menjadi cerah dan semakin dekat dengan keberadaan yang Suci.

Hanya ada optimisme di sinar matanya, karena ia bersumber pada keluguan akan pengabdian anonimus atas sang Kala. Kita sudah lupa bahasa-bahasa itu. Kita telah lupa dan merasa cinta bisa kita reduksi yang sering membuat konyol.  Orang menjadi merasa bijak dan merasa menjadi pemimpin meski tak pernah bisa memimpin orang lain, pun diri sendiri. Celakalah mereka yang tak mendengar yang lebih muda, tetapi lebih celaka lagi mereka yang muda tapi merasa dirinya telah tua.

Tetaplah menjadi muda, karena hanya yang muda yang mampu merasakan cinta, dan hidup ini terlalu sia-sia dan hampa tanpa cinta.

Tetaplah tertawa dan berbahagialah senantiasa karena tak ada batas akan imajinasi, kreasi, dan keberanian.

Tetaplah tersenyum karena dunia akan suram tanpa senyumanmu dan semua karya akan menjadi sirna keindahannya tanpa kehadiranmu dalam abstraksi, bebas ruang, bebas waktu.

Tegakkanlah kepalamu dan melangkahlah terus. Hati gampang berubah. Dunia ini berubah. Generasi berganti. Namun hatinya tetap bertoreh untuk cinta dan keindahan. Adalah kegelian hati bagi mereka atas orang-orang yang berketetapan hati.

Tetaplah tersenyum, demi dunia ini, demi cinta!

27 April 1997

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.